Hijabographic: Hijab Book Project
Hijab Book by Media Mahasiswa :
Adalah sayembara penulisan buku dengan mengambil tema utama “Hijab”.
Terus kalo mau ikutan, apa yang mau ditulis?
Kalau kamu perempuan:
• Punya pengalaman menarik tentang berkerudung?
• Hal apa yang membuatmu memutuskan untuk…
Love these patterns :)
(Source: visualgraphic)
(Source: fuckyeahfathoni)
Seorang wanita dapat mengubah rumah tangga menjadi surga sebagaimana ia dapat pula mengubahnya menjadi neraka yang tak tertahankan.
—Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni. (via superbmother)
(via frinholic)
Liat sahabat sendiri sudah hampir tugas akhir itu rasanya sama kayak liat orang menikah dan orang meninggal. Langsung muncul pertanyaan: “Saya kapan?”
(Source: atik3plets)
TEDxITS 18.05.2013
for kicks (via wahyupratomo)
beijing “nendang” banget ya yu (y)
Peru + Bolivia : a stop Motion Journey by Timelapse Media
0.50 - 0.51 noted!
Our physical interaction with this world is becoming lesser and lesser and we stuck in this virtual world. We think by doing good sharings on fb or else where our work as Muslims is done.. that’s not Enough Actions speak louder than like buttons.
So True
(via fitya275)
yummmm
(via permenantheadamage)
Kampung Batik Laweyan, Solo. 2011. Seorang kakek mengayuh becak yang penuh dengan batik.
Surabaya. Malam tahun baru. 2 tahun yang lalu. Tentunya, tidak bersama kamu.
Arsitektur Kampungan
Apa boleh buat, singkat cerita sumiskin sudah terlanjur meninggalkan sawahnya di desa, sudah terjual pula. Bergegaslah dia menuju gorong-gorong, kuburan, pojok-pojok, tempat-tempat yang mungkin tidak tersentuh oleh orang berduit. Bagaimana dia makan? Langit kota terlalu legam, tak secerah langit biru desa, tidak menurunkan ranumnya padi-padian atau air kelapa. Bosan menunggu terpaksalah sumiskin mengais remah menuju pojok kota selatan, utara, timur laut, barat daya. Lalu di tempat-tempat pojok itulah bertemu sahabat-sahabat informalnya(?), lalu mereka berpesta. (cuplikan epigram “Orang dan Duit”, Sukirno Ali 1988)
Kampung adalah satuan komunitas antar individu yang membentuk kelompok karena perasaan senasib sepenanggungan, berawal dari ikatan tersebut simpul-simpul ini menyesuaikan diri, berevolusi, membentuk sistem sosial, dan menciptakan batas teritorial bersama. Kampung dan persoalanya kini tak mungkin lagi di lihat dari satu perspektif, wilayah ini sudah mengalami berbagai eksperimen program pembenahan dan tak kunjung mengalami nasib baik.
Kampung seringkali dipandang sebelah mata (bahkan menutup mata), tempat tinggal tak layak, jorok, kotor, miskin, marjinal, melulu seperti itu. Penyelesaian yang ada akhirnya tak jauh dari penyelesaian fisik, melihatnya dengan kaca mata kuda tidak akan menyelesaikan persoalan, kampung pada dasarnya adalah dampak pembangunan kota yang eksesif. Akibat arah kebijakan kota menjadi satu-satunya nahkoda dalam perkembangan ekonomi, hal ini menyebabkan ledakan arus urbanisasi yang sedemikian besar. Tentu saja hal ini tidak bisa di terima begitu saja, kota dan kompleksitas urusan duitnya tak mau menerima orang miskin dan tak berpunya, kota sekonyong-konyong menjelma menjadi sarang spesies khusus, kumpulan spesies orang berduit.
Pembangunan menuju kota egaliter menjadi pekerjaan rumah selama bertahun-tahun, teka-teki ini terlalu sulit di jawab oleh perencana kota dan para arsitek, permukiman miskin kota semenjak era Hasan Fathy hingga Y.B Mangunwijaya tak pernah memiliki jawaban pasti. Satu-satunya jawaban yang diperoleh sampai kini tak pernah terwujud, jawaban itu adalah persoalan permukiman miskin bukan hanya milik perencana kota apalagi arsitek. Cabang persoalan ini sedemikian kompleks sampai-sampai menyentuh persoalan sosial, politik, ekonomi dan lain-lain. Arsitektur lagi-lagi hanyalah butiran debu di antara milyaran partikel angkasa (Ramdhani Subhan, 2012).
Bagaimana arsitektur menyelesaikan permasalahan kampung kota? Dan peran arsitek sesungguhnya?. Pekerjaan arsitek adalah pengelola ruang, jabatan ini sesungguhnya teramat strategis untuk menyelesaikan masalah ketidak-adilan ruang, setidaknya sebagai penyentuh persoalan pertama. Kenapa arsitektur adalah wadah yang sangat penting dalam pengentasan kemisikinan? Arsitektur terkait dengan ruang, ruang adalah sumberdaya krusial untuk masyarakat miskin bertahan, ruang adalah bentuk fisik dari rumah lalu terkait dengan pekerjaan. Ini adalah dua rumus penting untuk meningkatkan kekuatan bertahan masyarakat miskin. Pemukiman adalah unsur penting, terutama di indonesia. Ketika kita tidak mendaftarkan rumah, kita tidak memiliki KTP. KTP adalah akses penting untuk semua hal, pekerjaan, sekolah dan lain-lain. (Antonio Ismail, Asian Coalition for Housing Rights, 2011). Permukiman adalah hal yang krusial, mengentas persoalan kemiskinan melaui perbaikan permukiman menjadi jalur penting, arsitektur adalah pembuka dan penyedia ruang untuk kemungkinan-kemungkinan perbaikan dalam aspek lain.
If we start building a lot of smaller constituencies within a city, where people start relating to each other – and sharing between constituencies- a lot of horizontal learning, linking, and creativity will start happen. (Samsook Bonyabancha, Asian Coalition for Housing Rights). Peran arsitek disini semakin jelas, bahwa dalam perbaikan permukiman yang menjadi fokus adalah melakukan penyadaran tentang kehidupan bersama. Dalam kampung hal ini sangat mungkin, potensi sosio-kultural kampung akan menjadi modal sosial strategis dalam perbaikan kota yang menyeluruh, perbaikan ruang bersama menjadi pemicu ber-kehidupan bersama antar anggota masyarakat lalu dari hal tersebut kemandirian dalam pengentasan kemiskinan dapat di peroleh.
Posisi arsitek bukanlah pengambil keputusan, tetapi menjadi mediator masyarakat lalu mengarahkan pada pencarian-pencarian solusi permasalahan bersama, mengangkat harkat martabat masyarakat miskin melalui proses berpikir, melalui arsitektur menemukan jati diri dan keberadaan kemudian bersama menuju masyarakat yang madani (equality, egality, and democracy). Arsitektur bukan dialektika, monolog, bukan pula soal eksistensi, arsitektur dan arsitek seharusnya berada pada posisi “antara”.
Architecture is the profession that exists somewhere in the middle, between the social and the physical aspects of poor community redevelopment, between the informal and formal, between the function and the form. (Samsook Bonyabancha, Asian Coalition for Housing Rights, 2011)
| Essay ini ditulis untuk Wiswakharman Expo dalam “Ruang Empati Kota” |
(by robbaniamalromis)


