ECCentric

Architext & Muslimah. Superbmother and bright bride wannabe.
@erstiecci
adiarerstimardisiwi.com

Salahkah bila aku mengatakan bahwa aku ini arek Suroboyo? Kenyataannya, aku tak dilahirkan di kota pahlawan ini, melainkan di negeri yang sangat jauh dari Surabaya. Surabaya berada di belahan bumi selatan, namun aku dilahirkan di belahan utara. Saat usiaku hampir empat tahun kurang beberapa hari, kuinjakkan kakiku di kota yang asing bagiku. Kata orang, namanya Surabaya. Bersama kedua orangtuaku, kumulai menyelami tempat baru itu…

Surabaya kota yang bersih dan hijau, begitu slogannya kata orang. Benar. Kini Surabaya semakin cantik dan hijau, tak lepas dari peran sang walikota. Warga mulai rutin bersepeda, bahkan tak hanya tiap hari Minggu. Aku pun semakin senang tinggal di Surabaya semenjak memasuki dunia perkuliahan. Aku menjadi semakin senang melangkahkan kaki menyusuri sudut-sudut kota ini. Mengayuh sepeda, mengendarai motor, mengendarai mobil, bahkan mengendarai kendaraan gratisan macam bis heritage keliling beberapa tempat di Surabaya. Dulu, aku tidak tahu dimana letak Tugu Pahlawan. Dulu, mana kutahu tentang Museum Santet? Dulu, aku tidak tahu kalau Surabaya punya Sate Kelapa Ondomohen yang rasanya jos gandos kotos kotos nganthi mbledhos. Semakin hari, aku pun mulai penasaran untuk mengenal tempat kelahiran ayahku ini.

Kini, enam belas tahun sudah aku tinggal di kota ini. Surabaya, semakin hari semakin memberikan endorphin layaknya memakan cokelat dan es krim. Masih banyak sekali titik-titik di kota ini yang belum kulewati dan kuketahui.

Surabaya dengan segala hiruk pikuknya. Surabaya dengan segala keras kepribadian orang-orangnya. Surabaya dan segala cinta yang ada di dalamnya. Semuanya membuatku selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumah walaupun sudah berkelana ribuan kilometer jauhnya.

Surabaya menggoreskan ribuan sejarah bagi hidupku. Tak hanya kesenangan, tetapi juga luka. Aku mulai mengenal cinta di sini, di Surabaya. Aku mulai mengenal luka juga di sini, di Surabaya. Aku mulai mengenal diriku sendiri, di sini, di Surabaya. Aku menemukanku.

Di Surabaya, aku memberanikan diri untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Aku rasa, Surabaya adalah titik nol dalam hidupku. Awal bagi kehidupanku, karena kedua orangtuaku bertemu di sini, dan juga mungkin tempat terakhirku bernafas nanti. Ya, akulah arek Suroboyo. Suatu saat, mungkin aku pergi jauh dari Surabaya. Ragaku boleh jauh dari Surabaya, namun jiwaku, tak akan pernah jauh darinya.

Surabay(e)a(h) !

by: Adiar Ersti M.